Nusa Dua, CNN Indonesia -- Lima agen pemegang merek (APM) otomotif asal Jepang yang berkolaborasi dalam satu proyek percontohan ekosistem kendaraan listrik 'EV Smart Mobility' belum memiliki rencana untuk memproduksi satu kendaraan listrik hasil kolaborasi bersama.


President Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors Nobukazu Tanaka menambahkan untuk saat ini, lima APM bekerja sama dengan latar belakang memiliki misi yang serupa, namun dengan tetap membawa masing-masing produk perusahaan otomotif masing-masing.


"Sampai saat ini memang belum ada wacana ya untuk membicarakan apakah lima APM bekerjasama untuk menghasilkan produk, kami belum ada," kata Tanaka di Nusa Dua, Bali, Rabu (27/7).



Tanaka melanjutkan, misi serupa dari lima APM Jepang itu berisikan dua hal. Pertama, mengenalkan dan mempopulerkan teknologi elektrifikasi ke masyarakat secepatnya. Kedua, membantu pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi karbon.


Ia kemudian menilai Indonesia merupakan negara unik yang dinilai memiliki peluang besar cocok sebagai target pasar produksi mereka nantinya. Bali misalnya, secara letak geografis memiliki pegunungan dan daratan yang cocok sebagai percobaan kendaraan listrik buatan mereka.


"Kondisi itu sangat penting agar kai memahami berbagai tes, apakah produksi kami cocok dengan masyarakat Bali," kata dia.



Projek kolaborasi 5 APM Berpeluang di daerah lain


Masih dalam kesempatan yang sama, Vice President Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Henry Tanoto menyatakan tak menutup kemungkinan 'EV Smart Mobility-Joint Project' yang baru pertama kali dilakukan di Bali akan diperluas di daerah Indonesia lainnya.


Adapun untuk Toyota, lanjut dia, telah terlebih dahulu melaksanakan percontohan ekosistem kendaraan elektrifikasi 'Smart Mobility Project' di Nusa Dua Bali dan Pulau Samosir di Danau Toba, Sumatera Utara.


"Dengan lebih banyak [APM] akan lebih banyak customer masyarakat yang aware, baik passenger maupun komersial. Sehingga memiliki experience dengan elektrifikasi ini," ujar Henry.


Henry kemudian kemudian membeberkan, proyek kendaraan listrik yang terlebih dahulu dilakukan Toyota diklaim berhasil menurunkan emisi karbon sesuai rencana dan target pemerintah.


Ia menyebut proyek perusahaannya itu telah menggaet 1.300 pelanggan di Bali. Ia kemudian mengajak berhitung, dengan total jarak tempuh lebih dari 90 ribu kilometer, maka penurun emisi korban terhitung tidak sedikit.


"Kalau semuanya menggunakan teknologi elektrifikasi mungkin sekitar 13 ribu CO2, kemarin sekitar 4 ribu C02. Jadi ada penurunan 65 persen," ujarnya.